Search

Susah payah tapi bermanfaatkah ?

Baca Juga :



PAYAH-PAYAH BEKERJA 
*Nasihat bagus dari seorang saudara

Pada suatu malam, ada 3 orang sahabat yang lagi pulang kerja, kebetulan mereka tinggal di satu apartement yang sama dan berada dilantai 18 paling atas. Sesaat mereka sampai di apartement, dan ingin menaiki lift, tiba-tiba liftnya rusak, terpaksa harus menggunakan tangga darurat. Terjadilah percakapan:

A : Eh, gimana kalo gue cerita lucu, biar nanti gak kerasa kalo udah sampe atas?
B : Boleh juga tuh.

Setelah si A selesai cerita, gak terasa mereka udah sampe lantai 10.

B : Nah, sekarang gantian gue, mau cerita serem.
A & C : Jangan serem-serem kali ya!

Akhirnya si B selesai cerita. Bulu kuduk A & C pun berdiri semua, dan tak terasa mereka udah sampe lantai 15.

C : Nah, sekarang giliran gue cerita sedih ya!
A & B : Ah, udah mau sampe, lagi pula masa cerita sedih sih, bisa panjang nanti ceritanya.
C : Ya gak apa-apa lah… Singkat kok ceritanya.
A & B : Ya udah, emang cerita sedih kayak gimana sih?
C : Sedih banget dah pokoknya!
A & B : Ya udah, cerita….
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
C : Kunci apartement kita ketinggalan di mobil...
A & B :  *nangis berjamaah*

SUSAH PAYAH TAPI NGGAK MANFAAT...

Begitulah saudaraku...
Demikian juga dalam melakukan sebuah ibadah. Kita harus memahami dan membawa KUNCI-nya agar ibadah kita tidak sia-sia.

Pernahkan kita membaca sebuah kisah yang sangat berharga?
Sahabat Umar bin Khatab suatu ketika menangis. Apakah gerangan yang membuat beliau menangis?
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran Al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.

Umarpun memanggilnya,
‘Hai rahib… hai rahib.’ Rahib itupun menoleh.
Ketika itu, Umar terus memandangi sang Rahib.
Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya. Kemudian tiba-tiba Umar menangis.
Orang di sekitarnya yang menyaksikan kejadian itu keheranan, mereka bertanya,
‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat anda menangis ketika melihatnya?’

Jawab Umar, ‘Aku teringat firman Allah dalam Al-Quran, (yang artinya) ‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki neraka yang sangat panas’ Itulah yang membuatku menangis.’
(Tafsir Ibn Katsir, 8/385).

KUNCI DITERIMANYA AMAL

Oleh karena itu wahai saudaraku yang kucintai karena Allah... Ketahuilah bahwasannya kunci diterimanya amalan adalah:

1.Beriman
2.Ikhlas
3.Ittiba' (mengikuti petunjuk Nabi)

Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang Ikhlas dan Ittiba, beliau rahimahullaah berkata:

“Amalan yang dilakukan tanpa disertai Ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ittiba) bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah salah seorang ahli tafsir al-Qur’an paling terkemuka, berkata:

“Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah)

Alhikmah
Follow akun sosial media Foto Dakwah, klik disini

Klik disini untuk sedekah dakwah, untuk membantu dakwah kami

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments