Search

Filosofi cermin

Baca Juga :


BAGAIKAN SEBUAH CERMIN šŸ˜ŒšŸ”

Ketika Anda berdiri dihadapan cermin, Anda bisa melihat kekurangan-kekurangan, membersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel di wajah. Anda bisa memperbaiki penampilan Anda, memperbaiki baju, menyisir rambut, dan seterusnya. Bahkan terkadang Anda berkali-kali melihat ke cermin, hanya sekedar meyakinkan diri Anda sebelum pergi...

Tahukah Anda wahai saat saudaraku, bahwa dalam kehidupan ini, kita adalah sebuah cermin... ya, saya, Anda, kita...

Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Seorang mu'min merupakan cermin bagi saudara mu'min yang lain."
(HR. Imām Bukhari dalam kitab Adabul Mufrād dan Imam Bayhaqi dalam Syu'abul Imān, hadits hasan)

Ini adalah permisalan yang agung dan sangat menakjubkan tentang nasehat-menasehati, saling mengingatkan antara kita dengan saudara kita

Cermin. Bukan hanya sekedar memberitahukan dimana letak kekurangan, kesalahan atau kotoran yang menempel di wajah. Tetapi cermin juga menjadi tempat kita untuk memperbaiki diri...

Cermin. Saat Anda meninggalkannya, tidak pernah mengingat kembali aib, cacat atau kotoran yang ada padamu. Jika orang lain setelah anda berdiri memakai cermin itu, dia tidak akan pernah bercerita bagaimana kamu dan apa kotoranmu. Dia tidak akan bercerita "Si fulan seperti ini dan itu."

Begitu pulalah kita sebagai seorang mu'min...

Seorang mu'min, dengan tulus, tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan apa-apa akan menunjukkan kepada kita kesalahan dan kekurangan saudaranya sesama mu'min. Lalu kita ingatkan, nasehati, dan tidak perlu menceritakan kepada muslim yang lain, cukup hanya Anda yang tahu aib-aib saudara kita...

Bercermin dengan menyendiri, tidak perlu mengingatkan seseorang dihadapan banyak orang, atau mengingatkan seseorang dengan keras dan kasar. Dia mengingatkan dengan lembut, hanya antara engkau dan cermin...

Begitu seharusnya kita memberi nasehat kepada saudara kita sesama muslim, dengan lembut, santun dan rahasia, tidak perlu orang lain tahu karena kita hanya mengharap balasan & pahala dari Allāh 'Azza Wa Jalla dan menginginkan agar saudara kita itu memperbaiki diri...

Cermin. Kebanyakan wanita kemana-mana membawa cermin. Kadang hingga bercermin dikaca-kaca mobil orang lain. Sampai seperti itu kebutuhan seseorang terhadap cermin. Manusia memang tidak bisa lepas dari cermin.

Kita juga begitu... Kita membutuhkan saudara kita untuk memperbaiki diri kita. 'Abdullāh Ibnu 'Umar berkata: "Semoga Allāh merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aib dan kekuranganku."

Terima kasih saudaraku, engkau telah mengingatkan aku... jazākumullāhu khairan, wahai saudaraku... šŸ™šŸ™šŸ™šŸ™šŸ™

Cermin. Semakin bening dan bersih, maka semakin jelas memperlihatkan aib, noda-noda, kekurangan diri yang ada pada diri kita. Semakin mudah kita untuk memperbaikinya...

Begitu juga seorang mu'min, semakin bersih hatinya, semakin tulus dia dalam mencintai saudaranya dalam menashihatinya, maka semakin berguna dia bagi saudaranya untuk memperbaiki diri.

Mari kita menjadi cermin satu dengan yang lainnya. Sehingga kita bisa berjalan bersama-sama, menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alaihi wa sallam.

šŸ‘¤ Ust. Abu Zubair Hawary, Lc (edited)

Alhikmah
Follow akun sosial media Foto Dakwah, klik disini

Klik disini untuk sedekah dakwah, untuk membantu dakwah kami

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments