Cari Dakwah

Pemimpin curang

Baca Juga :


PEMIMPIN CURANG

Perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif yang telah sangat akut dalam perilaku masyarakat kita dewasa ini. Hingga bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga  dirinya, perbuatan curang telah menjadi kebiasaan yang seolah bukan lagi dianggap perbuatan dosa. Hampir dalam semua bentuk interaksi yang dilakukan oleh mereka dengan orang lain, selalu saja dibumbui dengan kecurangan, kebohongan dan khianat. Padahal, jangankan agama, seluruh manusia yang lurus fitrahnya pun, mengatakan bahwa perbuatan itu jelas buruk dan tidak terpuji.

Kemimpinan, jabatan dan kedudukan sering kali disalahgunakan untuk menipu rakyat atau orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya. Kecurangan dan sikap mensia-siakan amanah pada sebagian para pejabat sudah menjadi rahasia umum. Kasus-kasus hukum yang menimpa mereka, sudah menjadi menu informasi yang kita terima sehari-hari. Padahal perbuatan yang demikian mendapat ancaman keras dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan kepemimpinan atas orang lain, lalu ia mati dalam keadaan berbuat curang terhadap orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah akan mengharamkan atasnya surga.” (HR Muslim)

FAKTOR-FAKTOR PERBUATAN CURANG

Perbuatan curang memang biasanya tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor dan pemicu seseorang melakukan perbuatan tersebut. Diantaranya:

1. Lemahnya iman, sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatannya sekecil apa pun.
2. Kebodohan sebagian orang tentang haramnya perbuatan curang, khususnya dalam bentuk-bentuk tertentu dan saat perbuatan tersebut sudah menjadi sistem ilegal dalam sebuah lembaga atau organisasi.
3. Ketiadaan ikhlas (niat karena Allah) dalam melakukan aktifitas, baik dalam menuntut ilmu, berniaga dan yang lainnya.
4. Ambisi mengumpulkan pundi-pundi harta kekayaan dengan berbagai macam cara. Yang penting untung besar, walaupun dengan menumpuk dosa-dosa yang kelak menuntut balas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang tidak lagi mempedulikan apa yang didapatkannya, dari yang halal atau dari yang haram.” (HR Bukhari)
5. Lemahnya pengawasan orang-orang yang berwenang untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
6. Tidak adanya kesungguhan. Sebagian orang bermalas-malasan menyelesaikan tugas dan apa yang menjadi kewajibannya, saat semua itu harus ia pertanggungjawabkan, maka ia pun menutupinya dengan perbuatan curang. Seperti seorang murid yang malas belajar, saat datang masa ujian, ia pun berusaha berbuat curang agar bisa lulus ujian.
7. Berteman dengan orang-orang yang suka berbuat curang dan selalu menuruti ajakan setan untuk berbuat curang.
8. Lemahnya pendidikan yang ditanamkan sejak kecil di rumah atau di sekolah. Sering kali orang tua atau guru tidak memberi tindakan yang tegas saat anak atau muridnya berbuat curang, atau malah justru memberi contoh dengan melakukan kecurangan dihadapan anak atau murid di sekolah.
9. Kurang percaya diri. Saat seseorang merasa dirinya tidak mampu bersaing dengan orang lain, maka tidak jarang ia akan melakukan kecurangan untuk menutupi kekurangannya.
10. Sikap bergantung kepada orang lain dan malas menerima tanggung jawab.
11. Tidak qanaah dan ridho dengan pemberian Allah.
12. Tidak adanya sistem hukum yang efektif untuk membuat jera para pelaku kecurangan.
13. Lalai dari mengingat kematian. Ini adalah faktor penyebab seluruh perbuatan maksiat dan terus-menerus dalam melakukannya.

DAMPAK NEGATIF BERBUAT CURANG

1. Orang yang melakukan kecurangan dan orang yang meridhainya akan mendapat dosa.
Nabi berlepas diri dari pelakunya, “Barangsiapa yang mencurangi kami, maka ia bukan golongan kami.”
2. Manusia akan membenci orang yang suka berbuat curang dan tidak mau bergaul dengannya.
3. Perbuatan curang merupakan perbuatan khianat kepada umat dan sikap mensia-siakan amanah.
4. Perbuatan curang termasuk salah satu sifat orang-orang munafik.
5. Perbuatan curang akan menghilangkan keberkahan.
6. Perbuatan curang akan melemahkan kepercayaan kaum muslimin.
7. Perbuatan curang akan menjadi faktor kegagalan masyarakat dalam semua bidang.
8. Zalim kepada orang lain.
9. Melemahkan pencapaian ilmu dan kemampuan
10. Menciptakan permusuhan dan kebencian antar kaum muslimin.
11. Mendapatkan harta haram dari cara-cara yang curang.
12. Terjerumus pada sikap meremehkan pengawasan Allah.

Kecurangan dapat diatasi jika dalam hati masyarakat sudah tertanam dengan kuat nilai-nilai ketauhidan dan keimanan. Kesadaran selalu diawasi oleh Allah akan membuat seseorang tidak akan berani melakukan perbuatan tersebut. Pun pemahaman terhadap akibat-akibat buruk yang akan menimpa mereka kelak dari perbuatan curang harus terus ditingkatkan. Jika kesadaran ini telah terkolektif, maka insya Allah praktek-praktek kecurangan dapat dientaskan, atau sedikitnya diminimalisir.

Bagi kita yang telah menyadari perbuatan buruk tersebut, hendaknya menjauhi sahabat atau teman yang suka berbuat curang, terus berdoa kepada Allah memohon taufiq, selalu mengingat akhirat dan berusahalah melakukan amar makruf nahi munkar sesuai dengan kemampuan dalam rangka merubah keadaan masyarakat menuju yang lebih baik.

[Diadaptasi dari risalah berjudul “Falaisa Minnaa”, karya Abdulaziz bin Sarayan al Ushaimy, cet. Darul Qasim, Riyadh, th 2002]

👤 Ustradz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.
🌐 muslim.or.id

Al-Hikmah jkt
Follow akun sosial media Foto Dakwah, klik disini

Ayo bergabung bersama Tim Foto Dakwah, klik disini untuk donasi

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments