Cari Dakwah

Fadhilatusy Syaikh Abdurrazaq Hafizhahullah mencium tangan anak kecil yang hafal hadist

Baca Juga :

Fotodakwah.com -


Fadhilatusy Syaikh Abdurrazaq Hafizhahullah mencium tangan dan memeluk seorang anak kecil yang berhasil menjawab pertanyaan beliau dengan membacakan lafaz hadist dalam bahasa Arab.

Syaikh juga memberikan hadiah dan Uang Riyal, tak ketinggalan Ustadz Maududi juga memberikan hadiah.
Maa Syaa Allah

Semoga menjadi Anak yang Sholeh dan menjadi Pejuang Tauhid.

Repost Hendri Anto

-------

HAL-HAL YANG MENYEBABKAN PAHALA DILIPAT GANDAKAN

Pembahasan diambil dari pertanyaan yang di tujukan kepada Asy-Syaikh al-'Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah. Pertanyaan tersebut, "Apa-apa saja amalan yang menjadikan sebab-sebab pahala dilipat gandakan? ''

Seorang muslim hendaklah mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, agar dengan amalan yang dilakukan akan terwujud kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Lihat perhitungan pebisnis atau pedagang, hitungan mereka begitu rinci. Mulai dari sewa tempatnya, modalnya, dan yang lainnya. Sementara kita berbisnis dan bertransaksi dengan Allah, yang mana perdagangan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan perdagangan yang tidak pernah merugi. Maka seharusnya perhitungan kita melebihi kalkulasi pedagang.

Jawaban dari pertanyaan tersebut ialah : Bahwasanya kita mengetahui kebaikan akan Allah lipat gandakan sepuluh kali lipat,sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا...

"Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya...''

(QS. Al-An'am : 160)

Balasan sepuluh kali lipat ini pada umumnya, adapun yang lebih dari itu caranya ialah : berhubungan dengan pelaku amalan, berhubungan dengan amalan, berhubungan dengan waktu, berhubungan dengan tempat dan berhubungan dengan pengaruh efek-efek positif.

Ringkasan rincian dari lima perihal tersebut ialah :

1.  Berhubungan dengan pelaku amalan.

Tergantung dari pengaruh keikhlasan dan ittiba' (mengikuti) Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam. Amalan yang benar-benar ikhlas, hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti petunjuk yang lurus dari Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam akan mendapatkan ganjaran yang berbeda, seperti perbedaan langit dan bumi bagi orang yang beramal tanpa keikhlasan dan mengikuti Nabi.

2.  Berhubungan dengan amal itu sendiri.

Setiap amalan memiliki keutamaan yang berbeda dan bertingkat-tingkat. Misalnya Dzikir, di istilahkan dengan dzikir yang dilipat gandakan, sebagaimana Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

كلمتان خفيفتان على اللسان، ثقيلتان في الميزان، حبيبتان إلى الرحمن، سبحان الله العظيم، سبحان الله وبحمده

"Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dicintai ar-Rahman, "Mahasuci Allah yang Maha Agung, Mahasuci Allah aku memuji-Nya.'

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits radhiyallahu 'anha berdzikir dari Shubuh sampai waktu dhuha, Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengajarkan dzikir ini kepada Juwairiyah radhiyallahu 'anha,

 سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته

"Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai keridhaan-Nya, Mahasuci Allah seberat timbangan 'Arsy-Nya, dan Mahasuci Allah sebanyak tinta (yang menulis) Kalimat-Nya.'

(HR. Muslim no. 2726)

Penting kita mengetahui keutamaan amalan, sehingga kita bisa mengamalkan amalan-amalan tersebut.

3.  Berhubungan dengan waktu.

Seharusnya kita mengetahui keutamaan dan pentingnya suatu waktu. Karena ada waktu-waktu tertentu yang berbeda dengan waktu yang lain. Misal : bulan Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, mudah-mudahan kita semua dipertemukan Allah Subhanahu wa Ta'ala di bulan Ramadhan, bisa beramal shalih dan kita berharap amalan-amalan kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dibulan Ramadhan ada satu malam, yaitu lailatul qadr. Lailatul qadar lebih baik daripada seribu bulan, berarti lebih dari 80 tahun. Orang bertemu dengan lailatul qadar namun tidak mengisinya dengan ibadah-ibadah, sungguh mereka orang mahrum, yakni orang yang terhalangi dari kebaikan, sungguh sangat merugi perihal yang demikian.

4.  Berhubungan dengan tempat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ...

"Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya....''

(QS. Al-Qashash : 68)

Contoh tempat yang dilipat gandakan pahala adalah masjid.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ (36) رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ (37)

"Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.''

(QS. An-Nur : 36-37)

Hukum pokok bagi laki-laki adalah wajib shalat di masjid, kecuali ada udzur syar'i. Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

من سمع النداء فلم يأته فلا صلاة له إلا من عذر

“Barang siapa yang mendengar adzan, kemudian ia tidak memenuhinya. Maka tidak ada sholat baginya, kecuali seorang yang memiliki udzur.”

Shalat dirumah tanpa udzur berdosa, shalat di masjid ditambahkan pahala. Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

صلاة الجميع تزيد على صلاته في بيته، وصلاته في سوقه خمسا وعشرين درجة

"Shalat jamaah melebihi atas shalat seseorang di rumahnya dan di pasarnya dengan dua puluh lima derajat.

(HR. Bukhari no. 477)

Diriwayat lain dijelaskan dua puluh tujuh derajat.

Bahkan bisa lebih, jika kita shalat di masjid Nabawi dapat pahala seribu kali lipat, di masjidil haram seratus ribu kali lipat.Mudah-mudahan kita bisa mengunjungi dua masjid ini, shalat di dalamnya dan semoga saja kita diberi kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah haji.

5.  Berhubungan dengan efek-efek positif atau hal-hal yang ditinggalkan setelah kematian.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).'

(QS. Yasin : 12)

Perhatikan kata  " وَآثَارَهُمْ '' , bekas yang mereka tinggalkan. Bisa jadi yang kita tinggalkan kebaikan dan keburukan setelah kematian. Efek kebaikan sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): Sedekah jariyah, Ilmu yang dimanfaatkan, atau Do’a Anak yang Shalih.”

(HR. Muslim no. 1631)

Perhatikan hadits diatas, kita masih bisa beramal walaupun telah tiada, yang diistilahkan oleh ulama "Umur Kedua'' karena ketiga perkara diatas, kita masih bisa beramal shalih.

Berusahalah untuk mencari amalan-amalan shalih setelah kematian. Tidak cukup dengan shalat, puasa, zakat saja. Yang terbaik adalah seperti hadits diatas (sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan do'a anak yang shalih).Hendaknya kita tamak dalam kebaikan-kebaikan seperti ini. Harus hati-hati terhadap efek amal keburukan setelah meninggal dunia.Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

"(ucapan mereka) menyebabkan mereka me­mikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.''

(QS. An-Nahl : 25)

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنِ اتَّبَعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مثلُ آثَامِ مَنِ اتَّبَعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ من آثامهم شيئًا".

"Barang siapa yang menyeru kepada hidayah (petunjuk), dia akan beroleh pahalanya semisal dengan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi pahala mereka barang sedikit pun. Dan barang siapa yang menyeru kepada kesesatan, dia akan mendapatkan dosanya semisal dengan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya, tanpa mengurangi dosa mereka barang sedikit pun.''

Dua hal yang diingatkan pada akhir pembahasan :

1. Sangat pentingnya risalah ini, karena isi kandungannya.

2. Berharap majelis malam ini merupakan peletakan batu pertama. Setelah itu akan dibahas pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Risalah ini telah beliau (Syaikh) syarah di masjid Nabawi sebanyak tujuh kali pertemuan dan telah dibukukan.

Wallaahul Muwaffiq

(Catatan Tabligh Akbar bersama Fadhilatus Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahumallah dengan penterjemah Ustadz Maududi Abdullah, Lc hafizhahullah  pada hari Rabu tgl 18 Rajab 1439 H/4 April 2019 M di Masjid Agung Tangah Sawah Bukittinggi-Sumatera Barat)

Ditulis oleh Ustadz Abu Abdillah Hafizhahullah
Follow akun sosial media Foto Dakwah, klik disini

Klik disini untuk sedekah dakwah, untuk membantu dakwah kami

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments