Cari Dakwah

Manhaj prinsip agama kyai Ahmad Dahlan terhadap bidah

Baca Juga :

 


MANHAJ/PRINSIP KEAGAMAAN KYAI HAJI AHMAD DAHLAN TERHADAP BID'AH-BID'AH


Kyai Raden Haji Hadjid (Murid Langsung Kyai Haji Ahmad Dahlan) -Rahimahullah- Berkata:


"Kiai Dahlan bermuhasabah melihat kaum Muslimin di kampung Kauman dan sekitarnya (Yogyakarta) serta tanah air Indonesia terdapat beberapa bidah. Maka Kiai Dahlan berjuang mengajak kembali kepada ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, serta meninggalkan bidah-bidah tersebut.


Dalam berjihad ini beliau menjumpai rintangan rintangan dari ulama, sanak keluarga sendiri yang sangat berat. Sehingga kami masih ingat ditembok rumah Kiai Dahlan ada tulisan dalam bahasa Arab, yang artinya, "Niscaya orang yang berpegang pada sunnahku (sunnah Nabi) ketika telah rusak umatku itu seperti orang yang menggenggam bara".


Di bawahnya ada tulisan, "Karena tidak ada orang yang mendukung untuk menyetujuinya".


Dengan kerja berat dan sabar telah berhasil memberantas beberapa bidah seperti:


1. Selamatan waktu seorang ibu mengandung 7 bulan.


2. Bacaan mauludan dengan memukul rebana ketika membaca "Asyrakal Badru" (sambil berdiri). Dan bayi yang berumur 7 hari dibawa ke muka oleh orang yang membaca barzanji.


3. Sedekah yang bernama surtanah, ketika ada orang yang meninggal, selamatan tiga hari, baca tahlil tiap tiap malam ketika ada orang meninggal sampai 7 hari, selamatan 40 hari, seratus hari, satu tahun. seribu hari (nyewu) dan bacaan tahlil 70 ribu untuk menebus dosa dan haul (ulang tahun kematian) dengan baca tahlil, membaca La-ila-ha illa Allah di muka jenazah dengan lagu suara yang keras.


4. Perayaan 10 Asyura dan mengadakan mandi (padusan), dan pergi mengirimkan doa ke kuburan. Dan tiap nisyfu Sha'ban mengadakan bacaan-bacaan yang tidak ada dalilnya dari Sunnah.


5. Shalat qabliyah 2 rakaat sebelum shalat Jumat.


6. Adzan dua kali pada hari Jumat.


7. Minta selamat dan bahagia kepada kuburan-kuburan para wali dan tawasul kepada Nabi.


8. Jimat yang banyak dipakaikan kepada anak-anak (untuk menangkal bala).


9. Shalawatan (membaca selawat dengan memakai rebana, tiap-tiap malam Jumat).


10. Mengadakan ziarah ke kuburan pada bulan Sya'ban (nyadran).


11. Bacaan-bacaan tahlil Qur'an untuk dikirim kepada ahli kubur (orang yang sudah meninggal).


12. Taklid kepada ulama tanpa tahu dalil-dalilnya.


Hendaklah kita meneruskan memberantas bidah yang ada di kalangan umat Islam dengan berpedoman kitab-kitab At-tauashul wal Washilah karangan Ibnu Taimiyah dan Zadul Ma'ad karangan Ibnul Qayyim. Al-I'tikhom karangan Imam Syatibi (al-Mudkhal lil Ibnil Akhdaz), Tariqotul Muhammadiyah lil Barkawi, As-Sunnu wal Mubtadi'ah, al-Ibda-u fi Mudla-ril Ibtida'i, Ummul Quro li-'Abdurrachman al-Kawabi, dan lain-lain.


Menjadi kewajiban para ulama memberantas bidah-bidah dan wajib memberi tuntunan 'aqoid, ibadah, akhlak, adab menurut Al-Qur'an, dan As-Sunnah. Dan juga umat Islam wajib menjaga diri dari pengaruh-pengaruh jahiliyah serta pengaruh-pengaruh Barat (falsafah yang tidak percaya kepada Tuhan) dan dari semua tingkah laku yang menyalahi/bertentangan dengan Qur'an dan Sunnah.


Marilah dengan bersungguh-sungguh berjihad untuk kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah."


[Lihat Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan: 7 Falsafah Ayat Dan 17 Kelompok Ayat Al-Qur'an, Halaman 121 Sampai Halaman 124].

Ayo bergabung bersama Tim Foto Dakwah, klik disini untuk donasi

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments