Search

Apakah benar ibadah tapi masih mengharap surga berarti tidak ikhlas? Sebuah bantahan

Baca Juga :

 



Pernah terjadi percakapan antara dua teman kerja saya ketika kami ingin berangkat jum'atan (kurang lebihnya begini):


"Ayo berangkat jum'atan duluan yo', biar dapet onta"


(Mungkin maksudnya sedekah senilai onta)


Kemudiaan salah seorang teman saya yang lain nyeletuk:


"Kalo gitu gak ikhlas dong jum'atannya (masih ngarepin pahala) !"..


(Percakapan mengikuti dialek saya)


Mungkin anda juga pernah mendengar kata-kata semisal ini..


"Kalo ibadahnya masih ngarepin surga berarti gak ikhlas dong !"..


atau


"Kalau sholatnya masih ngarepin pahala jadi gak ikhlas dong !"


Lalu benarkah ibadah dengan mengharap Surga/pahala itu sama dengan tidak ikhlas ?


Sahabat,.

sudah pernah dengar hadits yang satu ini belum?


قدِم على رسول الله صلى الله عليه وسلم بسبي فإذا امرأة من السبي تبتغى إذا وجدت صبيا في السبي أخذته فألصقته ببطنها وأرضعته ، فقال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم : أترون هذه المرأة طارحة ولدها في النار ؟ قلنا : لا والله ! وهى تقدر على أن لا تطرحه . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لله أرحم بعباده من هذه بولدها


“Didatangkan tawanan kehadapan Rasululloh shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika itu ada seorang wanita di tengah-tengah rombongan tawanan itu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”

(HR. Bukhari dari sahabat Umar bin Khatthab)


Dulu semasa kecil ibu saya pernah berkata kepada saya kalau saya bisa dapat ranking 1 atau minimal ranking 2 disekolah blio akan membelikan saya sebuah jam tangan, bapak saya menjanjikan saya pergi jalan-jalan,.


Apa yang orang tua saya janjikan kepada saya sedikitpun tidak mengurangi rasa cinta saya kepada mereka meski ketika itu saya juga mengharapkan hadiah itu dr mereka, dan tentu bagi saya mereka lebih berharga dari apapun yg ada didunia ini setelah Allah dan Rasul Nya,.


Orang tua saya juga tidak merasa diduakan/dikecewakan ketika saya mengharapkan hadiah itu dr mereka, bahkan ini adalah satu kebahagiaan tersendiri bagi mereka sebagai orang tua bisa memberikan sesuatu yang bisa menyenangkan hati anak-anaknya,.


Nah sobat, bukankah Allah lebih cinta kepada hamba-hamba Nya melebihi cinta seorang ibu kpd anak kandungnya sendiri?!


Bukan suatu hal yang tercela ketika kita mengharapkan surga yang Allah janjikan, dan bukan suatu keburukan kalau kita beramal karena takut kpd Neraka yang Allah peringatkan kpd kita,.


Allah tidak merasa diduakan ketika Dia menjanjikan surga untuk hamba-hamba Nya dan ketika mereka mengharapkan surga yang telah dijanjikan Nya,


Jadi tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang:


"Beramal kok karena kepingin surga dan takut neraka, jadi gak ikhlas dong,."


Kalau anda katakan beribadah karena mengharap surga itu tidak boleh dan tercela maka secara tidak langsung anda telah menuduh Allah zhalim terhadap hamba-hamba Nya karena telah mengiming-imingi mereka dengan nikmatnya surga sehingga mereka mengharapkan surga. Demikian juga halnya Allah sering menyebutkan didalam al Qur'an tentang perihnya adzab di neraka makanya Allah ingin agar hamba-hamba Nya takut kpd Neraka.


Inilah dia Nabi Muhammad shallallah alaihi wa salam, beliau juga mengharapkan ganjaran/upah atas dakwahnya hanya dari Allah :


قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ


Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. upahku hanyalah dari Allah , dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.

(QS : Saba 47)


Beliau juga diperintahkan oleh allah untuk mengajari umatnya agar mereka takut kpd adzab/neraka Nya jika menyelisihi perintah Nya. Allah ta'ala berfirman :


قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ


Katakanlah wahai Muhammad : “Sesungguhnya aku takut akan siksaan di hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”.

(QS : Az-Zumar 13)


Dan beliau juga mengajari umatnya agar mereka ketika berdoa selalu meminta surga dan berlindung dr neraka:


عن أبي صالح عن بعضِ أصحابِ النّبي صلى الله عليه وسلم أن النّبي صلى الله عليه وسلم قال لرجل: " ما تقول في الصلاة"، قال: أتشهد ثم أقول اللهم إني أسألك الجنة وأعوذ بك من النار، ولا أحسن دندنتك ولا دندنة مُعاذ، قال: "حولها ندندن"


Dari Abu Sholih, dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seorang lelaki: “Do’a apa yang engkau baca di dalam shalat?” maka lelaki itu menjawab :“Aku membaca tahiyyat, lalu aku ucapkan “ ya Allah aku memohon surga kepadaMu dan aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka” Aku sendiri tidak mengetahui kalau engkau memunajatkannya begitu juga Mu’adz”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kamipun memohon surga dan berlindung dari neraka seperti yang engkau lakukan.”

(HR. Abu Daud no. 792, shahih)


wahai saudaraku! jalan mana yang akan kau tempuh?


engkaukah yang lebih ikhlas cintanya kepada Allah atau beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih ikhlas cintanya?


engkaukah yang lebih mengerti dengan agama ini ataukah beliau?


syeikh ‘Ahmad bin Yahya Annajmi - Rahimahullah- pernah berkata :


وأمَّا قوله: "وأنَّه ينبغي أنْ يُعبَدَ اللهُ لا خوفًا من ناره، ولا شوقًا إلى جنَّته"؛ فهذه العبارة مِنْ عبارات الصُّوفيَّة، وتُنسَبُ هذه العبارة إلى رابعة العدويَّة، وأخَذَها الصُّوفيَّة من بعدها بدون تعقُّل، فَمَنْ زَعَمَ أنَّه يعبُدُ اللهَ حُبًّا فقط، لا يعبدُهُ خوفًا من ناره، ولا شوقًا إلى جنَّته؛ فقد زَعَمَ أنَّه خيرٌ مِنَ الأنبياء؛ الَّذين وَصَفَهُمُ الله بقوله: ﴿إنَّهُمْ كَانُوا [يُسَارِعُونَ فِي الخَيْرَاتِ وَ]يَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾، وقال عن إبراهيمَ خليله -عليه السَّلام-: ﴿وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾، فهذا نبيُّ اللهِ وخليلُه، وأحدُ الَّذين اصطفاهُم من خلقه: يسألُ اللهَ أنْ يجعله مِن وَرَثة جنَّة النَّعيم، وأنْ يُعيذه مِن خِزْي يوم القيامة.

فَمَنْ زَعَمَ أنَّه لا يعبُدُ اللهَ طمعًا في جنَّته، ولا خوفًا من عذابه؛ فقد زَعَمَ أنَّه أفضلُ مِنَ الأنبياء؛ لذلك: فهو كاذب في هذا الزَّعم؛ فما مِن أحدٍ مِنَ النَّاس إلاَّ وهو يُحِبُّ الجنَّةَ، ويخافُ مِنَ النَّار، إلاَّ أنْ يكونَ لا يُؤمِنُ بهما، ولكنَّ الغرور والادِّعاءات الباطلة استحوَذَتْ عليهم، فَمَنْ ذا الَّذي لا يخافُ مِنَ النَّار، وهو بشَر مخلوقٌ مِن لحمٍ ودم وجلدٍ وعَصَب وعظام؟! لو عُرِضَ على نار الدُّنيا لخافَها؛ فكيف إذا كانت نار جهنَّم؛ الَّتي ضُوعِفَتْ حرارتُها على نار الدُّنيا بتسعةٍ وستِّين ضِعفًا...؟! فَمَنِ ادَّعَى أنَّه لا يخافُ من نارٍ تُذيبُ الصُّخور؛ فهو: إمَّا مجنون، أو كاذِب، أو مُكذِّب


“Adapun ucapan orang tersebut "bahwa sudah sepantasnya Allah diibadahi bukan krn takut kpd neraka-Nya dan menginginkan surga-Nya" maka ini adalah pemikiran dr salah satu pemikiran² kaum sufi , pemikiran ini dinasabkan kepada Rabi'ah Al adawiyah , kaum sufi mengambil pemikiran tersebut setelah ketiadaannya dgn tanpa berfikir² lagi.

Maka barang siapa yg menyatakan bahwa Allah -Ta'ala- cukup disembah dgn perasaan cinta, tdk takut kpd nerakaNya dan rindu kpd surgaNya maka berarti dia telah menyatakan bahwa dia lebih baik dr para Nabi . Yaitu orang orang yg telah Allah terangkan dalam firmanNya :


إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ


”Sesungguhnya mereka adalah orang orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami”.

(QS . Al Anbiyaa : 90)


Dan Allah Ta’ala menyebutkan tentang do’a kekasihNya , Nabi Ibrahim ‘alaihissalam :


وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ وَاغْفِرْ لِأَبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ


Dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat ."

(QS . Asysyu'aroo 85-87)


Maka inilah Nabinya Allah dan kekasihNya , dan salah satu dr orang² terpilih diantara para makhlukNya. Beliau meminta kpd Allah agar dijadikan pemilik surga yg nikmat dan agar dilindungi dr kehinaan pd hari kiamat.

Maka barang siapa yang menyatakan bahwa dia menyembah Allah dgn tdk berharap pd surgaNya dan takut akan nerakaNya , maka berarti dia telah menyatakan lebih utama dr pr nabi . Maka bisa dikatakan dia berbohong dlm pernyataannya. Tidaklah ada seorangpun dr manusia melainkan dia cinta kpd surga dan takut kpd neraka kecuali jika memang dia tdk mengimani keberadaan keduanya (surga dan neraka) , akan tetapi tipuan² dan pengajak² kebatilan telah melindungi mereka (dari kebenaran).

Maka siapa manusia yg tidak takut pd neraka ? Sedangkan dia hanya manusia biasa , makhluk yg terdiri dr daging , darah , kulit , urat dan tulang ..

Seandainya dia dibakar dgn api dunia saja dia takut , maka bagaimana dgn api jahannam yg telah dilipatkan panasnya diatas api dunia dgn 69 lipatan ?? Maka barang siapa yang menyatakan bahwa dia tdk takut pada api yang bisa melelehkan batu yg keras maka dia adakalanya orang gila , atau pendusta atau bisa jd seorang yg suka mendustakan".

(Fathu Arrabbi Alwaduud 1 / 5 - 6)

Follow akun sosial media Foto Dakwah, klik disini

Klik disini untuk sedekah dakwah, untuk membantu dakwah kami

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments