Search

Membantah ulama yang menyatakan bolehnya tawassul kepada orang yang telah mati dengan membawa hadits bathil ! Menguji keshohihan hadits yang isinya -nabi adam bertawassul kepada nabi muhammad

Baca Juga :


 


Bismillah
Membantah UAS dan Yang Sejalan Dengannya yang Menyatakan BOLEHNYA TAWASSUL KEPADA ORANG YANG TELAH MATI dengan Membawa Hadits Bathil !

Menguji Keshohihan Hadits yang Isinya
-Nabi Adam Bertawassul Kepada Nabi Muhammad shollalloohu ‘alaiyhi wa sallam-

Dan Hadits
‘JIKA BUKAN KARENA MUHAMMAD-shollalloohu ‘aayhi wa sallam, MAKA ALLAH TAK AKAN MENCIPTAKAN NABI ADAM ‘alayhis sholaatu wa sallam-‘
By: Berik Said

Dalam pembelaannya atas masalah tawassul kepada orang yang telah mati, maka UAS diantaranya berdalil dengan hadits yang akan ana jelaskan di bawah.

Bukan hanya UAS saja yang berbuat seperti ini.

Kalangan ‘mereka’ khususnya shufi yang paling tidak selektif dalam masalah hadits selagi menguatkan ‘syahwat’ bid’ahnya, juga banyak mengungkap hadits ini di berbagai kesempatan, termasuk di You Tube.

Nah ana akan menyoroti hadits yang paling sering digunakan kalangan yang membolehkan tawassul kepada orang sholeh yang telah mati -dan diantara yang membolehkan dengan alasan hadits ini adalah UAS- dalam pembahasan di bawah ini.

REDAKSI HADITS
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمُ الْخَطِيئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لَمَا غَفَرْتَ لِي، فَقَالَ اللَّهُ: يَا آدَمُ، وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقْهُ؟ قَالَ: يَا رَبِّ، لِأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيَدِكَ وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوحِكَ رَفَعْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ عَلَىَ قَوَائِمِ الْعَرْشِ مَكْتُوبًا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ إِلَى اسْمِكَ إِلَّا أَحَبَّ الْخَلْقِ إِلَيْكَ، فَقَالَ اللَّهُ: صَدَقْتَ يَا آدَمُ، إِنَّهُ لَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَيَّ ادْعُنِي بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ
“Ketika Adam ‘alayhis sholaatu wa salam berbuat kesalahan, beliau berkata, ‘Duhai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu DENGAN HAK MUHAMMAD shollalloohu ‘alayhi wa sallam, agar Engkau mengampuniku’.
Allah pun berkata, ‘Hai Adam, bagaimana kau dapat mengenal Muhammad sedangkan ia belum Kuciptakan?’
Adam ‘alayhis sholaatu wa salam menjawab, ‘Duhai Tuhanku, ketika Engkau menciptakanku dengan Tangan-Mu dan Engkau tiupkan kepadaku dari Ruh-Mu, kutengadahkan kepalaku, dan KULIHAT PADA TIANG-TIANG ‘ARSY TERCANTUM TULISAN ‘LAA ILAAHA ILLALLOOH, MUHAMMDARUR ROSUULULLOH’; . Aku pun tahu bahwa tidak mungkin Engkau sandarkan sebuah nama dengan nama-Mu, kecuali ia adalah makhluk yang paling Engkau cintai.’
Allah berkata, ‘Kau benar hai Adam, sesungguhnya dia (Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam) adalah makhluk yang paling Kucintai. BERDO’ALAH KEPADA-KU DENGAN (BERTAWASSUL DENGAN) KEMULIANNYA sesungguhnya aku telah mengampunimu.
Dan ANDAIKATA BUKAN KARENA MUHAMMAD -shollalloohu ‘alayhi wa sallam-, AKU TAK AKAN MENCIPTAKANMU’.

SISI PENDALILAN HADITS DI ATAS MENURUT MEREKA

Hadits itu menunjukkan bahwa Nabi Adam 'alayhis salam pernah bertawassul kepada Nabi shollalloohu 'alayhi wa sallam, yang jelas saat itu Nabi shollalloohu 'alayho wa sallam belum terlahir ke muka bumi.

Nah jika demikian, maka tentu BOLEH PULA BERTAWASSUL KEPADA ORANG SHOLEH YANG TELAH WAFAT.
Demikian kata mereka.

JAWABAN ATAS SYUBHAT HADITS DI ATAS

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitabnya Al Mustadrok.

Setelah meriwayatkan hadits di atas, beliau mengatakan sebagai berikut:
صَحِيْحُ الإِسْنَادِ وَهُوَ أَوَّلُ حَدِيْثٍ ذَكَرْتُهُ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ فِي هَذَا الْكِتَابِ
“Sanadnya shohih, dan ini adalah hadits Abdurrahman bin Zaid bin Aslam yang pertama kali kusebutkan dalam kitab ini”
*Al Mustadrak [4228].

Namun penshohihan Imam Hakim atas hadits ini SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA dengan beberapa alasan dan penjelasan berikut :

Sisi Pertama
Imam Hakim di kalangan penuntut ilmu pemula pun telah dimaklumi sebagai TASAHUL (Bermudah-mudah dalam menshohihkan hadits).

Makanya para ahli hadits tidak menjadikan pegangan perkataan belia saat menshohihkan hadits.

Ibn Dihyah di dalam kitabnya al-‘Ilm berkata:
“Menjadi kewajipan kepada ulama hadis untuk waspada pada setiap perkataan al-Hakim Abu Abdullah, kerana dia banyak berbuat kekeliruan, menshohihkan hadis-hadis yang tertolak.”

Peringatan semakna ini juga dikatakan oleh Ibnu Sholah, Ibnu Hajar, Abu Sa’id al Maalini, Adz Dzahabi dll rohimahumulloh.

Sisi Kedua
Nah terkait hadits di atas, justru sebagai CONTOH REAL BETAPA PENSHOHIHAHN IMAM HAKIM ATAS SUATU HADITS TAK BOLEH SERTA MERTA DIIKUTI !

Bagiamana kita akan membeo atas perkataan Imam Hakim yang menshohihkannya, pada dalam hadits tersebut terdapat rawi yang bernama
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ
(ABDUR ROHMAN BIN ZAID BIN ASLAM)

Sedangkan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam TELAH DISEPAKATI PARA AHLI HADITS SEBAGAI PERAWI YANG DHO’IF, yang sebagian penjelasannya akan ana sebutkan di bawah.

Sisi Ketiga
Yang makin menunjukkan sulitnya kita menerima hadits yang dishohihkan oleh Hakim saja, ternyata Imam Hakim sendiri dalam kesempatan lain menilai rawi yang Bernama ‘Abdur Rohman bin Zaid bin Aslam itu sebagai : 'PEMALSU HADITS !'

Lihat perkataan Al Hakim saat mensifati Zaid bin Aslam berikut ini :
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ: رَوَى عَنْ أَبِيْهِ أَحَادِيْثَ مَوْضُوعَةً لاَ تَخْفَى عَلَى مَنْ تَأَمَّلَهَا مِنْ أَهْلِ الصَّنْعَةِ أَنَّ الحَمْلَ فِيْهَا عَلَيْهِ
“Abdurrahman bin Zaid bin Aslam: dia meriwayatkan dari ayahnya HADITS-HADITS PALSU, yang bila diperhatikan oleh ahli hadits, maka jelaslah bahwa PEMALSUAN HADITS INI ADALAH ULAHNYA (ZAID BIN ASLAM)”.
* Al Madkhol ila Ma’rifatis Shahihi minas Saqiem (I:154 no 97):

Maka BUKANKAN AMAT ANEH jika Imam Hakim ini sendiri menyatakan Zaid bin Aslam ini PEMALSU, namun beliau MENSHOHIHKANNYA ?!

Betapa tidak konsistennya...
Anehnya UAS seakan tak peduli atas hal ini, bisa karena memang ia tidak tahu, atau PURA-PURA TIDAK TAHU !

Sisi Keempat
Atas dasar itu jangan heran kalua ulama haidits lainnya secara meyakinkan memastikan hadits tesebut lemah, bahkan PALSU !

Imam adz Dzahabi rohimahulloh yang meringkas kitab al Mustadrok dan melakukan studi ulang atas hadits hadits yang terdapat dalam kitab al mustadrok tersebut, mengomentari ucapan Imam Al Hakim yang menshohihkan hadits di atas dengan mengatakan
(بَلْ مَوْضُوعٌ!)
“Bahkan (yang benar), justru ini hadits palsu!”.

Sisi Kelima
Di samping terdapat ‘Abdullah bin Zaid bin Asalam yang merupakan pemalsu hadits, juga dalam sanad hadits ini terdapat pyla rawi yang bernama :
عبد الله بن مسلم الفهري
(‘Abdullah bin Muslim al Fahri)

Dia ini juga diduga keras pemalsu hadits !

Karenanya adz Dzahabi dalam sebagaimana terdapat dalam Kitab Lisanul Mizan mengomentari dengan berkata :
(خَبَرٌ بَاطِلٌ):
“Khabar (hadits) batil (palsu)”.

Ungkapan beliau tadi disetujui oleh Ibnu Hajar rohimahulloh, bahkan beliau menambahkan dalam kitabnya ‘Lisanul Mizan’ sebagai berikut:
لاَ أَسْتَبْعِدُ أَنْ يَكُونَ هُوَ الَّذِي قَبْلَهُ، فَإِنَّهُ مِنْ طَبَقَتِهِ
“Tidak menutup kemungkinan bahwa orang ini (Abdullah bin Muslim Al Fihry), adalah orang sebelumnya, karena dia berada satu level dengannya”
*Lisanul Mizan, [4462).

Al Albani rohimahulloh secara tegas menyatakannya : ‘MAUDHU’ (Palsu) !
*ad Dho’ifah [25]

TAMBAHAN YANG MAKIN MENUNJUKKAN BATHILNYA HADITS DI ATAS DARI SISI ISI HADITS (MATAN)

Di ujung hadits tersebut dikatakan :
وَلَوْلَا مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ
‘Dan ANDAIKATA BUKAN KARENA MUHAMMAD -shollalloohu ‘alayhi wa sallam-, AKU TAK AKAN MENCIPTAKANMU’

Ini jelas tidak benar !

Karena TUJUAN ALLAH MENCIPATAKAN MAKHLUK-NYA itu BUKAN KARENA ALLAH HENDAK MENCIPTAKAN NABI shollalloohu ‘alayhi wa sallam, tetapi :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya MEREKA BERIBADAH (MENTAUHIDKAN)-KU’”
(QS. Adz Dzariyaat: 56).

Jelas ayat ini secara pasti menegaskan semata mata tujuan Allah menciprtakan jin maupun manusia tak ada korelasinya dengan penciptaan Nabi shollalloohu ‘alayhi wa sallam, namun SEMATA-MATA TUJUANNYA AGAR MANUSIA DAN JIN ITU MENGIBADAHI ALLAH SECARA MURNI (TAUHID) !

Walhamdu lillaahi robbi’ ‘aalamiin, wa shollalloohu ‘alaa Muhammadin

Follow akun sosial media Foto Dakwah, klik disini

Klik disini untuk sedekah dakwah, untuk membantu dakwah kami

Share Artikel Ini

Related Posts

Comments
0 Comments